Welcome text

Rabu, 17 April 2013

[HAE-RA COUPLE] - SUJU - FF - Cellphone oh Cellphone





Title : Cellphone oh Cellphone
Rate : PG 15
Length : oneshoot

Cast :
Evilhae  as Ahn Ra Ra
Lee Donghae As him self



Disclaimer :
Dont copy or republish w/o my permition 


Note : Entah ini FF apah, karena sebenernya aku lagi bener bener galau soal IKAN.

~Lee Donghae’s pov,

Praak!


“Yak! Hyung! Jangan banting ponselku! Ada apa denganmu eoh?!”

Kyu, buru buru memungut ponselnya yang tergeletak tak berdaya di karpet ruang tengah apartemen.


“Ada apa dengannya?! Apa dia merajuk lagi?! Issh, yeoja itu, kapan dia akan menjadi dewasa sesuai usianya.” Omelku tanpa memperhatikan pertanyaan Kyu.

“Wae,.. kalian berdua bertengkar lagi eoh? Aish, hyung kapan kalian berdua bisa menikah jika masih seperti ini  terus? Apa kau menggodanya lagi dengan membuatnya cemburu?”


“Hei,.. jangan sok tahu. Aku bahkan tidak bisa menghubunginya selama tiga hari ini. Kakao-chat, DM tweet, bahkan SMS tidak satupun yang Ia jawab.

Kutelpon, nomornya selalu tidak aktif. Perilaku seperti ini hanya terjadi jika Ia sedang merajuk.”


“Mau saran dariku?” ujarnya, dengan senyum evil –nya yang membuatku sedikit khawatir. Biasanya sarannya yang seperti ini akan mengerikan.


“Beri kejutan, datangi Rara pagi pagi buta dan langsung berikan ciuman selamat pagi dengan bouquet mawar! Kujamin Ia pasti memaafkanmu.”  Ujarnya tanpa menunggu jawabanku.

“Yak, panggil dia Noona! Dia kan lebih tua darimu! Saranmu itu, bukankah itu terlalu gombal, dilihat dari karakter nya, aku akan sangat beruntung dia tidak menendangku keluar dari apartemennya.”

“Mwo?! Hahahahhahaahahahahha….”


Kyu tiba tiba tertawa terbahak,sembari menghempaskan tubuhnya di sofa.

“Waeyo? Apa yang lucu!!” Sahutku kesal.

“Hyung,..tidakkah itu sungguh lucu eoh?!! Hahahah…Aigo…, kau salahsatu bintang hallyuwave, cukup popular dengan ketampananmu, tapi menghadapi
kekasihmu sendiri kau khawatir Ia menendangmu keluar apartemennya?! Hahaha.. tidakkah itu sungguh menggelikan?” sahutnya sembari terus terkekeh geli.


Pletak!!


“Yak!! Appo, hyung!!”

“Siapa suruh kau meledekku. Perasaanku sedang tidak nyaman untuk bercanda!!”

Ujarku, dengan kekesalan yang mulai memuncak. Bisa bisanya dia meledekku seperti itu, di saat perasaanku sedang kalut.  Soal menghadapi yeoja, setahuku Kyu tidak begitu romantis, namun entah kenapa, Ia selalu bisa membujuk Sangra ataupun Anna yang sedang merajuk sehingga mereka dengan cepat bisa memaafkannya. Entah kapan Kyu akan memilih salah satunya untuk benar benar menjadi kekasihnya.


“Hyung!! Aish,.. kenapa malah melamun?! Palli!, datangi saja Rara-noona dan tanyakan langsung masalahnya.”

“Tapi,.. ini kan masih siang bagaimana aku bisa ke apartemenya pada hari terang benderang begini ? Apa kau ingin terjadi skandal?!”

“Iish, babo!! Tentu saja menyamar, hyung!! Bukankah kau dulu sering melakukannya?!”   Kyu benar, tapi aku kan sudah lama tidak pernah menyamar.


***


~Ahn Rara pov,

Eottohke,…

Aku memandang miris,  pada ponsel Samsung Galaxy S3 ku yang teronggok pasrah di meja  dalam keadaan cerai berai dan hairdryer  yang masih berantakan di karpet. Ponsel ini hadiah dari Donghae setahun lalu, saat aku berulang tahun. Dia pasti membunuhku karena sekarang hadiah-nya jadi  berujud seperti ini.

 Hua…


Aku kembali membenamkan wajahku di bantal sofaku yang nampak membentuk pulau-pulau karena terkena airmata.


“Setengah mati aku berusaha menghubungimu dan kau dengan santainya  meringkuk di sofa tanpa perasaan berdosa sedikitpun! Apa, kau pernah berusaha menghubungiku ? Menjalin komunikasi denganku ? Atau setidaknya beritahu aku kau ada dimana! Eoh?!”


Sosok namja terbungkus, jaket tebal, dengan masker dan kacamata hitam mencecarku dengan sejuta omelan.  Oke, aku berlebihan. Namun sudah jelas kan, dia benar benar sedang kesal padaku.

Sontak  aku berdiri, dan segera berdiri dihadapannya berusaha mengalihkan perhatiannya,  agar tatapannya tidak tertuju pada benda diatas meja.

“Wae?? Kenapa tiba tiba kau berdiri, apa yang kau sembunyikan dibelakangmu. Minggir!!” 

Tak memperdulikanku, Ia justru menarik lenganku untuk bergeser. Dan… matilah aku.

“Apa apa-an ini semua?! Hairdryer ? Ponsel yang tercerai berai?  Inikah yang terjadi pada ponselmu, sehingga aku hampir mati kesal karena tidak bisa menghubungimu?”

Oke, aku mulai gugup sekarang. Donghae akan marah besar! Aku tahu harga ponsel itu tidaklah murah dan aku merusaknya…

“Mi..mianhae. Aku sama sekali tidak sengaja, wak…tu…waktu aku ke toilet, ponselnya terjatuh begitu saja ke closet, aku sudah berusaha mengeringkannya namun tetap saja ponselnya tidak mau menyala. Aku sudah berusaha memperbaikinya, aku tahu itu tidak murah, tapi…aku sungguh tidak sengaja. Aku pasti akan menggantinya!”


“Bweo? Aku jauh jauh datang kemari karena hampir gila karena tidak bisa menghubungimu, tidak tahu bagaimana keadaanmu, dan kau malah membicarakan soal mengganti ponsel yang rusak?! Jinjja!! Yeoja babo!!! Hufth,..”

Donghae menghela nafas panjang, seraya melepaskan semua atribut penyamarannya. Nampak Ia berusaha meredam emosi. Sementara aku hanya mampu tertunduk pasrah dan memejamkan mataku, bersiap siap menerima omelan yang lebih panjang lagi. Namun, alih alih berteriak padaku Ia justru menarikku ke pelukannya. Mencium puncak kepalaku, dan terdiam selama beberapa menit.


“Hiks.. hiks.. Hua….”

Tangiskupun pecah. Aku sangat merindukannya. Namun, aku tidak berani menelpon dan mengatakan kalau ponselku rusak karena kecerobohanku.   Aku sangat menyesal.


“Ssh…. dasar cengeng! Aku kesal bukan karena ponselmu rusak, aku kesal karena kau tidak menelpon dan tidak memberitahuku  kalau ponselmu rusak . Kau tahu betapa khawatirnya aku? Kukira kau merajuk lagi, atau.. kau sakit seperti tempo hari.”

“Mmh,… tapi bagaimana ini ? Ponselnya sama sekali tidak mau nyala..” Tanyaku sambil setengah terisak.

“Hmm mau bagaimana lagi, nanti malam kita cari ponsel baru untukmu .  Sekarang yang penting, masak-kan sesuatu untukku. Aku lapar.” Jawabnya santai seraya menghempaskan tubuhnya di sofa dan menyalakan TV.

“Bweo?!  Masak? Errr…”

Bagaimana ini, aku lupa belanja kemarin.  Kalut karena ponselku yang rusak. Kupandangi isi kulkas dengan  putus asa.  Di freezer hanya ada daging ayam, kulkas hanya tinggal yoghurt dan strawberry saja.

Tapi, syukurlah masih ada beras. Apa boleh buat, masak saja apa yang ada.  Toh kalau dia lapar, biasanya apapun akan dilahapnya.


***


“A..pa…ini??”

“Sudah jangan cerewet! Makan saja. Katanya lapar!” ujarku kesal .


 Donghae menatap skeptis, pada makanan yang kusiapkan di meja.  Bahan makanan di kulkas hanya bisa kumasak, Yangnyeom Tongdak (ayam goreng khas korea , dengan saus manis , pedas dan sedikit asam),  nasi putih, dan hidangan penutup Smoothies Strawberry yoghurt. Aku tahu dia tergila gila pada
strawberry dan tampaknya yang menarik minatnya hanya smoothiesnya saja. Ugh..


“Hmm…tidak ada dakdooritang dan juga kimchi membuatku kurang bersemangat makan. Yah, tapi  apa boleh buat aku lapar!”


Issh, … orang ini benar benar tidak tahu terimakasih. Masih untung aku bisa mengkreasikan bahan minimalis di kulkas, menjadi masakan yang bisa dimakan manusia, namun dia sama sekali tidak menghargai usahaku.

“Mmm,.. masakan ayamnya cukup lezat,  dan smoothies nya segar sekali. Ternyata masakanmu tidak mengecewakan. Chagi apa kau sudah siap menikah?! “

“Uhhuk! Uhhuk!!

Ucapannya barusan mau tidak mau membuat smothies yang baru saja masuk ke kerongkonganku jadi salah jalur dan membuatku tersedak.

“Mwo?! Me..menikah?!”

“Wae..? Kenapa panik begitu? Memangnya kau tidak mau menikah? Apa kau tidak mau menikah denganku ? Lalu dengan siapa?!”

“Issh, bisakah kau berhenti membicarakan tentang menikah ? Kau mengatakannya seolah olah itu hal yang enteng dan hanya main main saja. Kau tahu, pernikahan itu sakral . Bukan untuk bahan candaan itu sama sekali tidak lucu!” Ucapku kesal, seraya membanting piring dan kelas kotor ke bak cuci piring.


Entah kenapa,  udara menjadi sedikit panas.   Apa karena, donghae menyinggung topic tentang pernikahan. Bukan aku tidak ingin menikah, tentu saja aku memikirkan masa depan hubungan kami. Tapi, dengan semua sikapnya yang tidak menentu dan terkadang masih labil aku …sedikit khawatir. Aku terlalu takut untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius dengannya. Aku merasa, dia masih senang main main, dan omongannya tidak pernah serius.  Donghae tidak pernah berbicara serius tentang hubungan kami. Obrolan tentang pernikahan, hanya berupa celetukan seperti yang baru saja dilontarkannya. Itu sungguh mengesalkan.


***


“Mau berapa lama lagi memilihnya, apa kau tidak tahu betapa tersiksanya mengenakan semua atribut tertutup ini?!” Donghae mulai mengeluh tidak sabar, saat aku masih belum menentukan pilihan ponsel mana yang aku inginkan.

Ya, akhirnya Donghae memutuskan untuk membelikanku ponsel baru, dan tersinggung saat aku masih bersikeras akan mengganti ponsel  yang rusak itu.

Namun, aku masih bingung diantara deretan smartphone yang ditawarkan kepadaku, aku bingung harus memilih yang mana. Tentu saja uang bukanlah masalahnya, namun tentu saja aku tidak ingin Ia menilaiku sebagai orang yang begitu mudah menghamburkan uang. Ia mengumpulkan pundi pundi itu dengan kerja keras, aku tidak mau berfoya foya dengan hasil kerja keras orang lain.


“Ini !! Bisa tolong bungkus yang ini ? Ah, ye tolong sekaligus aktifkan nomornya.” 

Donghae, menunjuk sebuah ponsel berwarna putih seraya memberikan kartu kredit pada pelayan wanita tadi.


“Mwo? Tung.. tunggu dulu, kan aku yang mau pakai! Kenapa , kau sudah membelinya?! “

“Sudah, tidak usah cerewet kau pakai saja apa yang aku pilihkan! Aku sudah tidak sanggup lebih lama berada dalam  mantel tebal dan semua atribut menyesakkan ini!”  jawabnya kesal.


Donghae,  bergegas menuju kasir untuk mengambil ponsel yang telah Ia pilihkan tadi, memastikan semua kelengkapannya berfungsi dengan baik kemudian,
menggamit tanganku meninggalkan toko lebih tepatnya menyeretku pergi.


***


“Kyahahahaha… kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau ingin ponsel couple eo?!” 

Aku tertawa geli saat mengetahui tipe ponsel yang dia beli.  Lebih tepatnya, ternyata dia membeli dua ponsel. I-phone 5 keluaran terbaru . Untukku berwarna putih dan untuknya sendiri berwarna hitam.

“Iish,..kau pikir aku remaja belasan tahun yang memakai segala barang berpasangan dengan kekasihnya?! Kebetulan saja aku sudah bosan dengan ponselku yang lama, dan sudah lama aku ingin menggantinya. Jadi, kupikir sekalian saja toh kita sedang ada di toko ponsel tadi.” Ujarnya mengelak .

Namun aku sempat menangkap semburat merah jambu, di pipinya dan ekspresinya saat ini sangat lucu dan menggemaskan.


~chu..


Aku tidak bisa menahan diriku lagi. Dia terlalu cute. Hahaha…

Saat Ia berusaha mengalihkan pandangannya karena malu, kukecup pipinya, dan itu membuat nya terlonjak terkejut. Tidak menyangka aku akan memberikan kecupan  seperti tadi. 

“Hahaha… lihatlah wajahmu merah!!” Jeritku senang.

“Mwo?? Hanya di pipi saja?!” kali ini, tatapannya berubah menjadi….

O..ow… kali ini aku dalam masalah.

“YA! Lee donghae, jangan coba coba berpikir mesum!” jeritku panik.

“Mesum apanya? Kau kan kekasihku, apa aku tidak boleh meminta lebih?” kali ini matanya berkilat evil.

Astaga,… mau apa dia? Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11.30 malam. Ini, sudah malam dan dia malah mengatakan hal hal aneh. Mau apa anak ini? Oke! Aku mulai panik.

“Apa kau tidak lihat, malam ini salju pertama turun, dan begitu dingin. Apa kau tidak mau berbagi sedikit saja, kehangatanmu denganku?”

Donghae mulai menggeser tubuhnya, mendekatiku yang sudah tidak memungkinkan untuk menghindar.

“K..kau mau apa?! Yak!! Aku akan teriak! Jangan macam macam!”

“Coba saja! Siapa suruh kau tadi menggodaku.”  

Dengan sekali sentak, Ia meraihku ke pelukannya mengunci mulutku dengan bibir tipisnya yang hangat . Melumatnya beberapa saat, dan membuatku melupakan bahwa saat ini kami ada di sofa.  Karena perasaanku begitu bahagia, dan melayang. Baru sesaat aku terlena, tiba tiba donghae melepaskan pelukannya dan beranjak dari sofa tempat kami duduk.

“Kurasa,..sudah cukup hangat yang barusan. Sudah waktunya aku pulang. Ini sudah larut.” Ujarnya seraya menghela nafas berat.  

“Nde…”  ucapku pelan.

Ada sedikit terbersit rasa kecewa, karena baru beberapa jam aku merasa bahagia dengan adanya dia disisiku. Karena, entah kapan lagi dia akan punya sedikit
waktu luang untuk menemaniku seperti tadi.

“Wae,.. mengapa tiba tiba murung? Kau ingin aku menginap?!” ujarnya, seraya menyunggingkan senyum jenaka.

“ Aish, apa kau ingin aku diusir oleh pemilik apartemen?! Aku tidak apa apa. Aku hanya sedikit sedih, karena setelah ini kau akan kembali dengan kesibukanmu.”

“Geurae. Karena itu, jaga baik baik ponselmu jangan sampai rusak lagi. Kapanpun aku ada sedikit waktu luang, aku akan menghubungimu. Arra? Jangan murung begitu, nampak jelek. Aku ingin yeojaku tersenyum sehingga aku bisa semangat menjalani rutinitasku. Baiklah,.. sampai jumpa lagi.”

Donghae mengecupku sekilas, dan mengambil kunci mobilnya, berlalu menuju pintu…

“Rara-chagi, password apartemenmu ini? Masih yang lama kan ?”

“Ya. Waeyo ?” tanyaku heran.

“Anniya, syukurlah.. karena nanti suatu malam saat aku merindukanmu aku akan langsung kesini dan memelukmu saat tidur. “ ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya.

“Kyaaaaaa!! Dasar MESUM!”  

Walau begitu, kurasa..aku akan menantikan saat itu.

~FIN~


Kyaaaaaah eotte…? Otte..?? ini gaje banget kaaan ?? idenya mndadak gara gara di tweet rame pada beli Aipon 5, trus keinget poto donge yang pake itu buat selca dan dengan babonya lupa buka buka lenscase nyah… wkwkwkwkwkwk ,.. RCL please. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar