Welcome text

Jumat, 01 Juli 2011

Baek Seung Jo's Diary - Epilogue part 3

"Dokter... Terjadi kecelakaan yang mengerikan. Orang bisu... Tidak! Maksudku Putra Si Wal itu mengalami kecelakaan . Dia berguling dengan alat pertanian dan dia bersimbah penuh darah."


Pasien itu kondisinya lebih buruk dari yang aku pilirkan. Di jalan yang tidak ada cahaya dan kecelakaan yang mengerikan ini terjadi setelah dia meminum alkohon dan kemudian menyetir kendaraan, terguling di sawah dan pasti bagian handle itu menghantam bagian perutnya dengan sangat keras sehingga merobek perutnya dan darah pun keluar dengan sangat banyak. Keadaan seperti ini walaupun di pindahkan ke rumah sakit besar, tanpa keraguan lagi pasien ini pasti akan meninggal.
Aku lebih baik menjahit pembuluh darahnya.
Wajah Ha Ni sangat pucat, seperti dia baru pertama kali melihat darah.

"Eh... Oh..."


Di depan anaknya yang sudah kehilangan kesadarannya, Ibu yang bisu itu pun berteriak histeris seperti memohon kehidupan anaknya kembali.

"Dokter!! Kumohon selamatkan putraku. Dia mengatakan akan tinggal dengan Ibunya di Pulau ini... Benar-benar menyedihkan."


Tangisan yang sedih itu tidak keluar dari mulutnya. Ibu itu hanya menangis di depan anaknya saat anaknya dalam keadaan kritis dan tangisan itu menghantam hatiku.
Setelah memutuskan operasi, semuanya pun menjadi sangat mendesak.
Sebelum terkejut dengan keadaan pasien yang bersimpah darah, pendarahan ini harus lebih dulu di hentikan.
Pertama adalah dengan doa, kemudian mencari pembuluh darah yang akan dipilih dan memberhentikan pendarahan ini.
Tetapi pembuluh darah itu tidak bisa aku temukan dan pendarahan pun tidak bisa dihentikan.
Daerah yang terluka itu sudah di penuhi dengan darah yang membuat sangat sulit di temukan pembuluh darahnya.

Kecemasan ini aku rasakan seperti di lilit oleh ular hitam.
"Larutan garam!!"
Aku tidak mendengar jawabannya.
"Larutan garam!! Ha Ni? Oh Ha Ni tolong bantu aku!!"

Saat aku memanggil Ha Ni, dia terlihat gemetar di sudut ruangan. Dia membawakan larutan garam itu dengan terburu-buru dan pada akhirnya lautan itu tumpah ke lantai.
Aku berfikir bahwa hal yang pertama harus kulakukan adalah memberikan kepercayaan diri pada Ha Ni.

"Lakukan apa yang aku pinta dengan tenang dan tertib. Maka tidak akan ada masalah. Percayalah padaku. Pertama ambil larutan garam dan cucilah bagian yang terluka itu. Karena itu kita perlu mengetahui bagian mana yang mengeluarkan begitu banyak darah ini."

Mendengar suaraku, Ha Ni pun mendapatkan kembali kepercayaan dirinya dan melakukan semuanya dengan baik.
Pengalaman di ruang operasi rumah sakit umum pun datang ke pikiranku.
Dengan tenang dan tertib pun aku mulai menjahit pembuluh darah itu.
Dan akhirnya operasi ini berakhir.
Setelah mengirimkan pasien ke helicopter penyelamat dalam kondisi yang mulai stabil, kekutanku pun perlahan hilang.
Bahkan aku tidak menyadari bahwa aku sudah terduduk jatuh di lorong rumah sakit.

Hal ini benar-benar membutuhkan kepercayaan diri... Tapi kepercayaan itu.... aku ketakutan.
Dengan takut aku duduk dan tanganku gemetar. Menjahit pembuluh darah adalah perawatan yang memerlukan kerja keras.
Ketegangan itu pun berubah menjadi kekuatan pada bahuku sehingga aku mulai percaya diri.

Selain itu... Satu keputusan menyelamatkan kehidupan seseorang ada di tanganku dan itu adalah merupakan beban berat yang menekan hatiku ini. Tapi jika kau melihat kejadian itu, menyelamatkan pasien tanpa agitasi itu pun tidak akan mungkin tersembunyi.

Setelah menyelamatkan kehidupan seseorang dengan tanganku ini, jujur saja aku merasa sangat senang sekali. Perasaan ini sulit di rangkai dalam kata-kata yang tidak bisa aku gambarkan. Untuk saat ini aku benar-benar merasa bahwa aku telah belajar banyak bertahun-tahun.

"Bukankah itu sulit? Tapi bagaimanapun juga kau melakukan yang terbaik."
Ha Ni bersandar ke bahuku. Hatiku pun merasa hangat.

"Ha Ni, ini semua karenamu. Karenamu lah aku menemukan ini, mimpiku... semua karena kau yang membuatnya. Orang yang membuatku nyaman itu adalah orang yang aku sukai."

Bahkan orang jenius pun takut dengan masa depannya. Aku menemukan jalanku ini karena kau yang menunjukannya. Untuk pengalaman yang kau berikan ini, bahkan kau tidak tahu bahwa kau bisa melakukan ini semua. Semua penderitaan dan air mata ini... Karena kau lah aku menjadi dokter.

Seseorang yang tidak pernah menyembunyikan cintanya.
Seseorang yang seperti itu adalah istriku...
Seseorang yang hangat itu tidak akan mungkin aku temui di dunia ini...
Ini benar-benar luar biasa.

Baek Seung Jo's Diary - Epilogue part 2



Ketika cahaya merah matahari yang terbenam di langit yang hitam
Seekor burung terbang di antara langit dan lautan.
Ketika mendengar suara sepedahku yang menggores angin di musim gugur lautan yang membuat pendengaranku terasa tenang...

"Dokter Baek kau pulang? Kau pulang terlambat."

Seorang Nenek yang sedang mengumpulkan jaring ikan itu
mendekat untuk menyapaku.

Seung Jo : "Ya aku pulang terlambat karena baru kembali dari rumah Tuan Lee, Mandor Desa ini."
Nenek : "Oh! Orang itu dapat terus bertahan karenamu Dokter Baek."
Seung Jo : "Tidak juga. Nenek, Bagaimana pinggangmu yang sakit itu?
Nenek : "Setelah mendapat obat yang kau berikan Dokter Baek, Aku sembuh dengan sangat mengejutkan."
Seung Jo : "Itu melegakan. Jika kau kehabisan obat maka datanglah padaku dan aku akan berikan kembali."
Nenek : "Baiklah, Tapi muskipun aku tidak datang padamu, Perawat Ha Ni akan memeriksanya dan mengaturnya untukku. Dimana kau menemukan istri yang cantik seperti itu. Dia adalah keberuntunganmu Dokter Baek."
Seung Jo : "Ya. Dia adalah keberuntunganku. Tolong jaga kesehatanmu."

Kapal hanya datang dua kali sehari dimana
Nenek dan Kakek tidak tinggal disini.
Di pulau ini Ha Ni lebih populer,
Seorang pengantin muda yang mengikuti suaminya.
Para Nenek dan Kakek sangat mencintainya karena dia datang kemari mengikutiku yang di tugaskan di pulau terpencil dan kesulitan.

Memikirkan apa yang terjadi sebelumnya itu membuatku merasa tertawa.
Alih-alih menjadi Dokter Militer kini aku menjadi Dokter Umum Kesehatan untuk 3 tahun dan di tepatkan di daerah terpencil untuk memberikan layanan yang baik.

Aku harus menerapkannya untuk suatu posisi di sebuah pulau, Tapi jika aku harus melakukan ini, aku menginginkan bekerja di sebuah tempat yang benar-benar membutuhkan layanan.
Aku ingin menemukan tempat dimana pekerjaanku ini dapat membayar sesuatu hal yang luar biasa, dimana banyak orang tidak ingin pergi kesini karena tempat yang kecil yang sulit di temukan.

Aku tetap tidak dapat melupakan tatapan keluargaku saat aku mengatakan dimana aku akan bekerja, pindah ke sebuah pulau yang jaraknya 5 jam dari Seoul dan harus menggunakan perahu selama 1 jam.
Pada saat itu Ha Ni lulus dari sekolah keperawatan dan mendapat kerja di rumah sakit, karena dia sudah menyelesaikan 1 tahun masa latihannya. Tapi dia berkata dia tidak pernah memikirkan ini.
Dia menangis dan tidak makan untuk beberapa hari.
Berkata bagaimana dia bisa tinggal begitu jauh dari seseorang yang di cintainya dan bagaimana dia tidak ingin melakukan ini....
Ini mungkin karena Aku mencintaimu lebih dari cintamu.
Aku lebih merasa menderita saat melihat Ha Ni yang menangis. Aku akan merasa lebih sedih karena akan jauh darimu...


Saat matahari terbit, kau membuka matamu dan
memberikan kecupan singkat di keningku.
Saat malam kau melihatku dengan nyaman dan tertidur saat aku bernafas.
Lenganmu itu menyelimutiku...
Kehangatanmu dan tubuhmu yang gemuk itu...
Sekarang aku tanpamu merasa kosong dan tidak bisa tertidur...
Aku seperti orang bodoh!

Dan kau berfikir bahwa aku tidak lebih mencintaimu sayang...
Setelah kau menangis, tidak makan beberapa hari dan membuat kehebohan ini kau berkata... Setelah menjadi pandai dengan pelatihan perawat dan setelah menjadi Istri seorang dokter, kau akan mengikutiku. Kau mengatakan hal itu dengan mata terpejam dan menangis. Ya kau memberikan aku sebuah izin.

Saat hari aku akan pergi sendiri, Kau mencoba dengan keras agar tidak menangis dengan menggiggit bibirmu itu di depan Pelabuhan Incheon.
Saat melihat Ha Ni, haiku ikut terguncang dan aku bahkan tidak bisa megatakan "Hiduplah dengan baik dan jaga dirimu." Yang aku bisa lakukan hanya berbalik dan pergi...

Bagaimanapun setelah 3 bulan berlalu, kau tidak bisa hidup tanpa melihatku dan akhirnya kau datang kemari.
Saat aku mendengar suara kaki Ha Ni...
Saat dia mengatakan 'Seung Jo' dengan suaranya yang cengeng itu...
Saat dia berlari kepelukanku...
Kejadian itu membuatku gila. Ini adalah hal yang ku rindukan... Menunggu tanpa tau harus mengatakan apapun dan hanya bisa menerima.

Saat aku kembali dari tugasku,
seorang anak kecil berusia 5 tahun dengan mata yang lebar itu berlari kearahku.
Ya.
Dia putriku.

Ha Ni : "Baek Seung Ha! Apakah kamu tidak akan kemari? Kau tidak perlu berlindung di belakang Ayahmu!"
Seung Ha : "Ibu... Maafkan aku."
Seung Jo : "Seung Ha-ku, Apa yang kau lakukan lagi sehingga Ibu marah seperti itu?"
Seung Ha : "Ayah, aku takut pada Ibu."
Ha Ni : "Jangan berfikir untuk melindungi Seung Ha hari ini. Dia kembali merusak mainannya. Gadis seperti apa yang selalu penasaran akan banyak hal?"
Seung Ha : "Aku sangat penasaran apa yang harus kulakukan agar suara dan gambarnya keluar.

Whoo. Kau, hanya karena kejadian lainnya yang di sebabkan
rasa penasaran lagi!
Selalu saja dua orang ini seperti ini, dan hari pun terjadi kembali.

Seung Jo : "Baiklah? Apakah kau benar-benar penasaran dengan ini? Tapi jika kau mengambil ini maka kau harus mengembalikannya seperi semuka. Sekarang, sebelum ibu kembali marah, haruskah kita mengembalikannya seperti semula? Bagian mana yang kau hilangkan sekrupnya?"

Mata yang penuh rasa penasaran itu menarik tanganku dan mengikutiku.
"
Ha Ni : Berapa kali kau melakukannya? Jam, radio dan akhirnya permainan yang Paman Eun Jo kirimkan untukmu. Sekarang tidak ada jalan lain, kau harus di hukum!!"
Seung Jo : "Seung Ha ayo kabur!"
Seung Ha : "Ayah, aku ikut! Ha Ha Ha Ha"


Seorang anak dan Ibu yang menggerutu,
Tawa anak itu membuat sekeliling rumah menjadi sangat hangat.
Ngomong-ngomong, hatiku terasa dipenuhi bunga....

Seung Ha : "Ayah, mainkan gitar. Aku akan menyanyi lagu '3 beruang'"
Seung Jo : "Haruskah aku memainkannya?"

Dia tau apa yang harus dia lakukan saat Ibunya marah.

Seung Ha : "3 beruang hidup di satu rumah. Ayah beruang, Ibu beruang, dan Bayi beruang. Ayah Beruang kurus, Ibu Beraung gemuk..."
Ha Ni : "Baek Seung H! Kau lagi!! Ibu beruang tidak gemuk tapi Ayah beruanglah yang gemuk!"
Seung Ha : "Tidak. Di rumah kita Ibu beruanglah salah stau yang gemuk, benar?"
Seung Jo : : "Kau membuat lelucon dengan mengatakan Ibumu gemuk?"
Seung Ha :"Ayah menyukai Ibu yang gemuk bukan? Bukankah itu bagus jika Ibuku yang tercinta ini mengambil alih dunia?"
Ha Ni : "Seperti yang diharapkan, suamiku yang terbaik!!"

Ha Ni mengangkat jempolnya dan dia tertawa bersinar.
Jalanku untuk mencintanya adalah dengan menjadi suami yang baik.
Ya perlahan-lahan...

Setelah menidurkan Seung Ha di malam hari.
Kami pun berbincang-binang mengenai hal-hal kecil.
Ha Ni : "Bagaimana kabar Kakek Lee?"
Seung Jo : "Ya, dia sudah lebih membaik."
Ha Ni : "Aku sangat terkejut pada hari itu..."
Dia dalam kondisi yang sangat serius karena tekanan darahnya sulit di periksa di mesin dan saat dia mendapat panggilan periksa tiba-tiba saja dia pingsan. Untung saja cepat dia mendapat perawatan CPR sehingga dia dapat melewati masa krirsnya tapi dia perlu pergi ke rumah sakit yang lebih besar dan mendapatkan perawatan.
Seung Jo :"Walaupun dia membutuhkan rumah sakit yang besar dan sebuah perawatan, tapi karena dia mempercayaimu Doker Baek maka dia tidak ingin pergi. Jika ini terus berkelanjutan, bagaimana jika ini menjadi lebih serius?"
Ha Ni : "Semua Nenek dan Kakek seperti itu. Mereka berfikir jika mereka rindu dengan pekerjaannya sebagai petani maka mereka akan mendapat sebuah masalah besar. Apakah kau pikir anak mereka tau bagaimana mereka hidup dengan bekerja keras?"
Seung Jo : "Aku tau... Oh Yeah, Nenek dari Mokpo itu memberikanmu pujian hari ini sayang. Dimana kau selalu menjaga obat-obatnya."
Ha Ni : "Tentu saja, siapa dulu aku....? Ini bukanlah masalah besar bagi Istri Dokter Baek Seung Jo yang jenius itu."

Ha Ni benar-benar merawat Nenek dan Kakek yang membutuhkan perawatan.
Memijat kaki Kakek yang kelelahan setelah mengurus lahan pertaniannya.
Memeriksa dan mengirimkan obat bagi mereka yang tidak bisa datang ke klinik kesehatan.
Bahkan dia membantu memandikan Nenek untuk mandi.
Ha Ni mempelajari prinsipku, 'Jangan melihat penyakitnya, tetapi melihat orangnya, seseorang yang membantu seseorang.' dia melakukan prinsip itu lebih baik dari yang kulakukan.
Ini lah istriku.
Cantik.

Perlahan-lahan perasaanku kepadamu semakin besar.
Di dalam pelukanku, wangimu itu membuat bibirku bergetar.
Dan aku berharap Aroma itu membuat tubuhku tergetar.
Semakin aku melihatmu, aku merasa cinta kita seperti lautan.

"Ring Ring."
Telfon penting itu datang di saat waktu pribadi untuk seorang pasangan.

Baek Seung Jo's Diary - Epilogue


Seung Jo

(Satu Tahun kemudian )
Kkong Dang Kkong Dang
Aku dapat mendengar Ha Ni menaiki tangga.
Suara Ha Ni yang kembali kepelukanku, membuat bibirku perlahan-lahan tersenyum.
"Aku kembali." Ha Ni mengatakannya dengan suara yang lesu.
Dengan tugas akhir Ha Ni untuk tesnya itu dia membutuhkan banyak energi bahkan dia harus melindunginya dari hal yang menyedihkan.
Whoo~ Dia datang ke sisiku dan menghembuskan nafasnya.
Dari balik punggungku aku mendengar suara hati Ha Ni dan itu membuatku merasa baik.
Perlahan-lahan aku mengangkat lengannya dan memberikannya ciuman di belakang.
Dan dia balik memberikan ciuman hangat pada daun telingaku.
Skinship itu hanya datang sesaat.
Seperti salju yang datang di musim semi lalu meleleh.

Seung Jo : "Apa itu begitu sulit?"
Ha Ni : "Ya."
Ini pasti sangat sulit karena dia tidak mengatakan tidak.
Seung Jo : "Cuci muka dan cepatlah istirahat."
Ha Ni : "Tidak. Aku harus belajar sedikit lagi. Besok adalah test yang terakhir."
Seung Jo : "Apa kau membutuhkan bantuan?"
Ha Ni : "Tidak. Aku akan melakukannya dengan caraku."
Seung Jo : "Ada apa denganmu? Kau tidak meminta bantuanku."
Ha Ni : "Ini pasti sulit untukmu juga kan? Aku dengar kau akan ada test sistem saraf besok."

Aku merasa tersentuh mendengarnya.
Hari ini aku melihat dia berfikir secara mendalam dan mencoba berdiri di jalannya.
Untuk seorang jenius sepertiku kesulitan dalam belajar
kedokteran adalah menyita tenagaku.
Bahan untuk belajar kedokteran sangat besar sehingga
tidak ada yang seharusnya belajar sendiri.
Entah itu belajar kelompok atau berbagi informasi dengan teman atau dari catatan senior.
Terlalu banyak yang harus di hapalkan.
Aku sangat berterima kasih atas nama cinta untuk mengenali dan memikirkan ini.

Ibu Seung Jo : "Hani, Lanjutkan belajarmu setelah kau makan snack ini. Oh tuhan! Bagaimana bisa begitu sulit? Kau cukup memiliki anak dan hidup dengan tenang dan manis sebagai gantinya."

Begitu aku tertidur, Ibu datang diam-diam.
Hari ini Ibu sangat sibuk menyiapkan snack untuk Ha Ni.
Semakin lama HaNi-ku akan terlihats seperti Babi

Hani : "Ya, terima kasih. Kau tidak perlu melakukan ini, kau bahkan tidak tidur. Jika aku lapar maka aku akan mengambilnya."
Ibu Seung Jo : "Tidak. Ini lah bagaimana aku hidup. Aku hidup tanpa bersenang-senang setelah aku membesarkan dua adik kaka yang begitu kaku seperti mayat."
Tentu saja itu adalah sesuatu yang pasti akan Ibu katakan.

Ok! Tiba-tiba saja Ha Ni muntah. Ada apa ini?

Ibu Seung Jo: "Apa ada yang salah dengan rasanya? Apa tidak enak? Aku hanya mempersipkannya."
Ha Ni : "Tidak. Aku hanya merasa tidak enak badan. Ini pasti karena aku sedikit kelelahan."
Ibu Seung Jo : "Kau... Apa kau memiliki berita bagus...?"

Ibu pasti berfikir Ha Ni hamil. Aku sebaiknya menghentikan pembicaraan ini.

Seung Jo : "Ibu! Kumohon berhenti berbicara dan turunlah ke bawah untuk tidur. Aku harus pergi besok pagi. Kau tidak perlu menceritakan kisahmu tentang hubungan Ibu Mertua dan Anak menantu. Semua sudah mengetahui hal itu."
Ibu Seung Jo : "Oh? Apakah kau terbangun karena aku? Maaf! Ha Ni! Jika kau merasa tidak enak badan maka sebaiknya kau cepat meminum obat."

Ibu mengatakannya dengan nada suara yang lembut dan nyaris hilang.
Lalu Ib upun pergi ke bawah.

Setelah mendengar suara Jam Alarm, Ha Ni tidak juga bangun.
Seung Jo : "Bukankah ini waktunya kau pergi ke kampus? Kau harus bangun."

"Baiklah." Ha Ni mengatakannya namun saat dia mengatakan itu suaranya terdengar tidak ada kekuatan sama sekali.
Saat aku meletakan tanganku di keningnya, Dia sedang demam.
Saat memeriksanya, aku melihat lingkaran hitam di bawah matanya dan wajahnya tidak terlihat segar hari ini.
Dia pasti sedang sakit.

Seung Jo : "Kau sepertinya sedang demam. Jadi pergilah ke rumah sakit."
Ha Ni : "Baiklah. Setelah dari kampus aku akan pergi ke rumah sakit dan pulang ke rumah."



Ha Ni

'Apa yang harus kulakukan? Aku hamil. Aku tidak dapat menjadi perawat dan tidak dapat menyelesaikan apapun.'
Pertama kali menjadi seorang Ibu. Aku benar-benar merasa bodoh.

Seung Jo juga sedang sibuk belajar dan jika tiba-tiba dia tau mengenai akan memiliki anak maka itu akan menjadi sulit untuknya, kan?
Dan jika Ibu mengetahui hal ini maka dia akan memintaku untuk menyerah menjadi perawat.
Apakah aku harus menyerah dengan cita-citaku ini?
Apa yang harus kulakukan?

Aku merasa hatiku terbebani saat aku berfikir bahwa aku tidak bisa meneruskan mimpiku untuk menjadi seorang perawat demi memiliki bayi.
Begitu aku pulang, Ibu langsung menanyakan beberapa pertanyaan padaku.
Aku rasa dia mencoba mengantisipasi sesuatu.
Aku hanya berkata bahwa aku sedang sakit perut dan aku langsung menaiki tangga menuju kamar.
'Seung Jo, cepatlah dan pulang. Apa yang harus aku lakukan?'

Walaupun aku dengan sabar menunggu Seung Jo pulang, d
ia tetap pulang terlambat hari ini juga.
Mahasiswa yang lainnya dari Kelompok Belajarnya tinggal bersama namun karena Seung Jo sudah menikah maka dia pulang ke rumah walaupun dia selalu telat.
Aapakah dia akan senang jika tiba-tiba kami memiliki
anak di tengah-tengah kesibukan kami belajar?
Saat sedang menunggu Seung Jo. Sejumlah pikiran datang dan menghantui pikiranku.
'Aku harus menunggu dan mengatakan padanya mengenai ini saat test kami sudah berakhir. Jika aku mengatakannya sekarang maka dia akan sulit konsentrasi dalam belajar. Bayi, Maafkan aku! Aku bukannya tidak senang mendapatkanmu, tapi Ibumu dan Ayahmu sedang sedikit sibuk. Maaf Bayi...'


Seung Jo :"Apa yang mereka katakan saat di Rumah Sakit? Apa kau baik-baik saja?"
Ha Ni : "Ya."
Seung Jo : "Minggu depan saatnya test, Apa kau yakin?"
Ha Ni : "Ya. Aku harus lulus! Untukku, untukmu dan untuk ba... HMPH!"
Ha Ni sedang berbicara namun tiba-tiba dia menutup mulutnya
dengan tangan dan berhenti berbicara.
Seung Jo : "Apa?"
Ha Ni : "Ah tidak apa-apa."

Seung Jo : "Kau sudah bekerja keras Ha Ni-ku! Tunggulah beban berat ini untuk beberapa hari lagi."


Seung Jo

Melihat Ha Ni yang diam, aku pun menariknya ke pelukanku dan mengelus rambutnya.
Nafas Ha Ni yang lembut itu terasa di dadaku.
Aku merasa sangat damai saat Ha Ni di pelukanku.
Seperti cahaya kembang api, perlahan-lahan di keningnya, lalu di daun telinganya aku menciumnya.
Perlahan-lahan ini semakin hangat. Dia seperti yang meleleh dan Ha Ni mulai merapat kempelukanku.
Nafas itu semakin cepat dan dalam. Saat aku ingin merapat padanya, dia tiba-tiba mendorongku menjauh.

Seung Jo : "Kenapa? Apa ada yang salah? Kau tidak menyukainya?"
Ha Ni : "Ini karena aku sedikit lelah. Maaf. Mungkin karena test maka aku sedikit tidak nyaman."


Aku merasa khawatir dan sakit saat melihat Ha Ni benar-benar lelah.

"Kalau begitu, biarkan aku memelukmu dan tidur."

Kenapa dia seperti ini, Apakah ini benar-benar karena test? Ini terlihat seperti ada sesuatu yang dia khawatirkan. Dia tampak begitu tertekan karena test ini. Aku harus bisa menghiburnya bagaimanapun juga caranya.



HA NI


Walaupun aku ada di pelukan Seung Jo dan berciuman dengannya tapi aku tetap tidak dapat berhenti mengkhawarikan apa yang akan terjadi nanti.
Apa yang harus di lakukan? Apakah seseorang sepertiku dapat menjadi Ibu yang baik? Aku tidak pandai, orang yang ceroboh dan selalu mendapatkan kecelakaan. Dan bagaimana jika aku tidak bisa bersama anakku? Seperti yang terjadi dengan Ibuku.
Aku tidak ingin memikirkan hal ini tapi hal ini terus muncul dan membuatku merasa khawatir.
'Seung Jo, apa yang harus kulakukan? Aku ingin menjadi seorang Ibu setelah menyelesaikan mimpiku dan menjadi orang yang baik. Karena sudah terjadi seperyi ini, Apa yang harus kita lakukan? Oh Ha Ni! Berhentilah panik dan mulailah rajin belajar!'



Seung Jo

Aku pikir dia sudah tertidur, Tapi Ha Ni diam-diam melepaskan pelukanku dan duduk di depan meja. Dia terlihat begitu sedih.
Siput itu terlihat sangat rajin demi menggapai mimpinya. Aku bangga padamu Ha Ni, tapi melihatmu seperti ini. Ini membuat hatiku seperti tertancap pisau.
Aku melihatnya dari belakang saat dia sedang belajar tanpa mengatakan apapun.
Semangat siputku Oh Ha Ni!
Perlahan-lahan dia jatuh di meja dan tidak terbangun lagi.(Maksudnya ketiduran)

'Dia pasti tertidur muskipun ia tidak bisa terjaga terus semalaman."

Angin berhembus...
Aku berfikir dia akan terbangun jadi aku pelan-pelan sekali mengangkatnya dan memindahkannya ke atas kasur. Setelah itu aku memilihkan beberapa pertanyaan untuk ujian dan menjelaskan masalah dari pertanyaan yang dia jawab salah dan memeriksa masalah apa saja yang perlu kau ketahui. Ini asalah hadiah kecilku untuk kerja kerasmu.


Ha Ni



Akhirnya hari ini adalah test...
Mulai sekarang, Bayi ini dan aku dapat mengatasi masalah ini.
Karena kami sama-sama belajar, bayi ini pasti merasa menderita saat aku menarik perutku, itu terkadang terasa sakit.

Maafkan aku, aku hanya terkejut bayi. Maaf Bayi. Namun pada saat aku membelai perutku maka semuanya akan baik-baik saja.
Kau pasti akan sangat tulus dan seperti aku. Kau akan sangat dingin jika kau seperti Seing Jo.
Tunggu... Bagaimana jika kau sepertiku yang tidak pintar?
Tidak. Bayi kumohon kau harus memiliki otak Seung Jo dan kepribadian sepertiku.
Kumohon... Aku sungguh-sungguh memohon padamu Bayi.


'Lakukan yang terbaik untuk test.' Kata Adik ipar Eun Jo.
'Ha Ni! Minumlah beberapa obat untuk menenangkan hatimu.' Ucap Ibu yang selalu khawatir.
'Makanlah bekal makan siang ini' Ucap Ayahku
Dan Ayah Mertua hanya menepuk punggungku memberi semangat.

Semua orang memberikan semangatnya dan datang ke tempat test.
Tapi mengapa aku merasa pusing? Ini tidak boleh terjadi. Biarkan aku mendapat kekuatan.
Bayi! Smeoga kekuatan itu di berikan kepada kita. Semangat untukmu juga Seung Joo! Berikan kami kekuatan.


Seung Jo

Aku sedang menunggunya di depan tempat test, sebaiknya aku membawanya pergi untuk makan sesuatu yang baik.
Untung saja udara tidak sedang dingin.
Kau pasti melihatku dari jauh karena kau terus tersenyum dan berlari ke arahku.
'Apa kau merasa begitu baik?'
Senyuman itu memenuhi hatiku seperti pemandangan musim semi
dan bunga yang bermekaran.

Aku merasa hatiku berdebar-debar dan merasa gembira. Tiba-tiba Ha Ni pingsan di depanku. Dan secara tiba-tiba hatiku terjun kedalam lubang yang begitu besar.

Dokter : "Karena terlalu stress yang di terima oleh Ibu maka Bayi juga merasa stress. Jadi sebaiknya anda sebagai Suami tolong menjaga istrinya agar tidak mendapat stress. "
"Ibu?" Aku merasa seseorang memukul bagian belakang kepalaku dengan palu.

Seung Jo : "Apa kau sudah tau?"
Ha Ni : "Yeah."
Seung Jo : "Bodoh, kenapa kau tidak memberitahuku?"
Ha Ni : "Karena kau akan kaget dan sibuk. Aku juga tidak menyiapkan apapun."

Suara yang keluar dari mulutnya itu terdengar begitu ragu-ragu.

Seung Jo : "Lalu apa kau berniat menggugurkannya?"

Ha Ni pasti sangat kaget dengan suaraku yang marah dan matanya terlihat membesar lalu dia mengangguk dan mengatakan hal ini sambil menangis,

Ha Ni : "Aku pikir ini akan membingungkanmu jika aku mengatakannya saat kau sedang sibuk belajar, setelah kita menyelesaikan test ini....."
Seung Jo : "Kenapa kau tidak mempercayaiku? Kau yang membuat semua penderitaan ini dan aku bahkan tidak tau jika kau tertawa seperti orang bodoh. Kenapa kau membuatku terlihat seperti orang yang jahat? "


Melihat tangisan yang jatuh dari mata Ha Ni, Aku berhenti mengatakan kata-kata yang menyakitkan.
Mengatakan kata-kata ini aku pikir Bayi ini akan mendengarnya dan aku mengabaikan mata Ha Ni.
Baek Seung Jo. Kau memiliki jalan yang panjang untuk pergi...

Dia terus menundukan kepalanya, menangis dan dengan wajah ketakutan itu suaranya bergetar, "Tidak itu... itu... bukan itu. Jika Ibu mengetahui ini... Berhenti belajar... Biarkan itu pergi... Dia pati akan mengatakan seperti itu. Aku benar-benar ingin menjadi seorang perawat dan Istri yang baik untukmu..."


Hani yang setengah menangis ini dan Bayi ini membuat hatiku luluh.
Jika saja dia bertemu dengan laki-laki normal maka Bayi ini tidak akan menderita seperti ini...
Jika aku lebih menjaganya...
Seseorang yang menjadi dokter bahkan tidak mengetahui bahwa istrinya sedang hamil dan dia menderita seperti ini...
Sesaat aku merasa bahwa tanggung jawab ini mencekik-ku
Dengan diriku ini bagaimana aku mengatasi rasa ketakutan ini dan membuat Bayi ini nyaman?
Kata 'Maaf' tidak keluar dari mulutku. Aku merasa begitu rendah dan buruk, dan yang bisa lakukan hanya memeluk Ha Ni.

Dan pada saat aku menelan semua kesedihan ini semuanya keluar begitu saja, tangisan yang sedih untuk sesaat.
Berapa lama tubuh mungil ini dalam penderitaan?
Seperti suami yang bodoh, tangisan itu membuat tulang ini sakit.
Tangisan dari laki-laki yang membiarkan istrinya menanggung semua penderitaan ini.

Ha Ni : "Sebenarnya aku takut. Aku takut bahwa aku tidak bisa menjaga anakku seperti yang Ibuku lakukan. "

Aku mengerti. Kau merasa terluka dari sesuatu yang bahkan aku tidak pernah pikirkan.

Seung Jo : "Itu baik-baik saja. Kau memiliki aku. Aku akan menjagamu. Tidak peduli apapun aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku sendri. Jadi jangan khawatir. Mengerti?"


Sebuah janji dan ciuman.
Air mata di pipinya dan air mata di bulu matanya itu.
Air mata penderitaan di keningnya yang memerah juga...
Mulai sekarang jangan menangis sendiri.
Dengan menghilangkan air mata ini maka aku juga akan menghilangkan semua kesedihanmu.
Kesendirian yang ada di air matamu itu aku minta kau menghapusnya.
Perlahan-lahan air mata Ha Ni pun mulai mereda.

Dengan wajah yang penuh air mata itu dia bertanya, "Apa kita tetap akan memberitahu hal ini pada orang tua kita?"

Seung Jo : "Tidak. Dengan sikap Ibu yang agresif itu kita tidak tahu apa reaksinya jadi kita harus menunggu hingga hasil tes-mu itu keluar. Setelah kita lulus maka dia tidak akan meminta kau untuk keluar atau berhenti kuliha. Ngomong-ngomong, aku dengar jika seseorang sedang hamil maka akan menginginkan sesuatu. Apa kau menginginkan sesuatu?"
Ha Ni : "Apa kau benar-benar akan membawakan apa yang aku inginkan?"
Seung Jo : "Tentu."

Ha Ni : "Sejauh ini belum ada yang aku inginkan."



Menanyakannya seolah-olah jika dia tidak percaya dan dengan matanya yang berkilau.
Apakah aku benar-benar seperti itu? Ini adalah sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.
Seujujurnya walaupun aku mengatakan aku mencintaimu tapi terkadang aku mengabaikan hal-hal kecil yang kau lakukan untukku.
Maafkan aku lagi. Kenapa cinta berarti mengatakan maaf?
Kapan akan ada hari dimana cinta lebih efisien dengan mengatakan maaf?

Ha Ni : "Aku ingin makan Strawberi. Apakah ada Strawberi di bulan November?"

SeungJo : "Pasti ada rumah Strawberi. Aku akan membelinya!"

Untuk waktu merawatnya aku ingin mencobanya dan menyeimbangi apa yang dia telah berikan. Jadi aku pun berlari di tengah angin November.



Eun Jo : "Ibu, Lihat Kaka! Kenapa dia menyembunyikan Strawberi yang dia bawa dan berlari begitu cepat? Betapa memalukannya ini, dia berlari begitu cepat apa karena dia berfikir bahwa akan ada yang mencuri Strawberi itu?"
Ibu Seung Jo : "Apa? Strawberi?"


Dari belakang aku mendengar ekspresi Eun Jo yang ragu dan suara Ibu yang tiba-tiba penasaran. Aku harus menyembunyikan ini dan cepat kedalam kamar.


Seung Jo : "Ini, aku membeli Strawberi."
Ha Ni : "Ini memakan waktu yang lama dari yang aku pikir. Apa tidak ada yang menjualnya di sekitar sini?"
Seung Jo : "Yeah. Tidak ada tetangga yang memilikinya jadi aku pergi ke supermarket besar. Aku pikir aku tertangkap basah oleh Eun Jo jadi cepatlah habiskan."
Ha Ni : "Benarkan? Kalau begitu kita berdua harus memakannya."
Seung Jo : "Jangan membagi itu! Kau harus memakannya sendirian! Apa ada lagi yang ingin kau makan?"


Tiba-tiba aku merasa hatiku terpenuhi oleh tatapan Mata Ha Ni yang seperti cahaya bulan.
Dengan cahaya bulan itu, hatiku dapat menghangatkan tubuhku.


Ibu Seung Jo :"Ha Ni! Seung Jo!"
Ibu begitu cepat dan suaranya seperti menghantak belakang kepalaku.


Ibu Seung Jo : "Kalian berdua memiliki sesuatu yang di sembunyikan benar bukan? Jawab dengan jujur. Apa Ha Ni hamil?"

Rasa penasarannya itu sungguh gila.

Seung Jo : "Ya."

Ibu Seung Jo : "Benar? Tebakanku akurat! HA HA HA HA kenapa kalian menyembunyikan berita gembira ini? AKu merasa sedih."
Ha Ni " "Seujujurnya... Aku pikir kau akan memintaku untuk berhenti belajar."

Ibu terlihat menyesal dan dia meminta maaf pada Ha Ni dan Ha Ni hanya menundukan kepalanya.

"Hey, Kenapa aku akan memintamu berhenti belajar? Kau sudah bekerja keras. Saat kau sedang dalam masa ngidam maka itu akan ada istirahat jadi tidak apa-apa. Dan jika di hitung maka bayi ini akan lahir di bulan Agustus. Itu akan ada waktu liburan lagi jadi ini sangat sempurna. Seung Jo, kau benar-benar jenius bahkan kau sudah membuatnya dalam waktu yang sangat tepat."

Di daftar Ibu yang Ibu buat ini tampak begitu sempurna
Dia selalu sibuk. Tapi dia begitu cepat jadi aku rasa ini tidak aka menjadi masalah.

Ibu Seung Jo :"Jangan khawatir dan cukup lahirkan bayi yang sehat. Aku akan mengatur semuanya."
Seung Jo : "Jangan memakaikan pakaian bayi perempuan lagi!"
Ibu Seung Jo : "Tidak! Aku tidak akan melakukannya lagi! Ha Ni akan melahirkan Bayi yang cantik kan? Benar Ha Ni? Apa yang kau lakukan? Cepat telfon Ayahmu. Eun Jo! Kau juga harus memikirkan nama Bayi! Ah kita harus mengambil foto perayaan!"

Suara yang ribut itu keluar dari suara Ibu yang penuh dengan kegembiraan dan memenuhi rumah ini. Awal penderitaan ini sudah pergi dan sekarang cahaya matahari membuat semua ini bersinar.

Dan untuk Bayi kami juga ^^